Topografi dan Morfologi

1. Topografi dan Morfologi

  • Ketinggian: Wilayah Wonomerto berada di ketinggian yang bervariasi, berkisar antara 50 hingga 350 meter di atas permukaan laut (mdpl).

  • Kontur Tanah: Bagian utara (yang berbatasan langsung dengan Kota Probolinggo) cenderung berkarakter dataran rendah yang relatif landai. Semakin bergerak ke arah selatan (menuju Kecamatan Kuripan dan Sukapura), kontur tanahnya mulai berbukit-bukit dan bergelombang karena merupakan lereng kaki Gunung Bromo/Pegunungan Tengger.

2. Iklim dan Curah Hujan

  • Iklim: Wilayah ini beriklim Tropis Basah dan Kering (Sabanatropis) yang dipengaruhi oleh angin muson.

  • Musim: Memiliki dua musim yang kontras, yaitu musim kemarau (sekitar Mei–Oktober) yang cenderung kering dan gersang, serta musim hujan (November–April).

  • Suhu Udara: Rata-rata suhu udara berkisar antara 24 hingga 32. Di daerah yang lebih tinggi (seperti bagian selatan), udara malam hari bisa terasa jauh lebih sejuk.

3. Karakteristik Tanah dan Penggunaan Lahan

  • Jenis Tanah: Didominasi oleh tanah asosiasi mediteran dan regosol yang terbentuk dari material vulkanik tidak terkonsolidasi. Tanah di kawasan ini umumnya subur namun sangat bergantung pada ketersediaan air.

  • Pemanfaatan Lahan:

    • Lahan Pertanian Tegalan/Kering: Pemanfaatan lahan tersebar di 5 Desa ( Sumberkare, Patalan, Jrebeng, Wonorejo, Tunggak Cerme) merupakan lahan produktif Tembakau Hitam. Karena pasokan air permukaan terbatas di beberapa desa, penduduk memanfaatkan lahan untuk tanaman palawija (jagung, singkong), serta pohon buah (mangga, Pisang, Pete).

    • Lahan Sawah: Terdapat di area yang memiliki akses irigasi, umumnya ditanami Padi dan Jagung 1 tahun sekali .

    • Hutan Produksi/Perkebunan: Di beberapa area perbukitan, terdapat tegakan pohon sengon, jati, dan mahoni.

4. Hidrologi (Sumber Daya Air)

  • Secara umum, Wonomerto termasuk wilayah yang memiliki tantangan pemenuhan air bersih dan irigasi saat musim kemarau panjang, terutama di desa-desa yang berada di perbukitan tinggi.

  • Terdapat beberapa sungai kecil dan daerah aliran sungai (DAS) musiman yang debit airnya akan melonjak tajam saat musim hujan, namun menyusut drastis di musim kemarau. Oleh karena itu, pembangunan embung dan pemanfaatan sumur bor dalam (artesis) menjadi krusial untuk pertanian di wilayah ini.

Fakta Menarik: Wonomerto merupakan Gerbang wisata Sukapura (GWS) Karena posisinya yang berada di jalur perlintasan menuju Gunung Bromo via jalur barat/tengah, kondisi geografis Wonomerto yang berbukit menyajikan pemandangan alam pedesaan dan perbukitan yang asri bagi para pelancong.

Informasi
GPR Kemenkominfo